Langsung ke konten utama

Budaya Lokal dan Islam di Kabupaten Kudus

Budaya Lokal dan Islam di Kabupaten Kudus
Oleh : Miftahul Karim

Pendahuluan
Kabupaten Kudus merupakan sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukota kabupaten ini adalah Kudus, terletak di jalur pantai timur laut Jawa Tengah antara Kota Semarang dan Kota Surabaya. Kota ini terletak kurang lebih 51 kilometer dari timur Kota Semarang.
Kabupaten kudus berbatasan dengan Kabupaten Pati di timur, Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Demak di selatan, serta Kabupaten Jepara di barat. Kudus merupakan penghasil rokok kretek terbesar di Jawa tengah dan juga merupakan kota santri. Kota ini merupakan pusat perkembangan agama Islam pada abad pertengahan.
Selain sebagai penghasil rokok kretek terbesar dan sota santri, kudus juga merupakn kabupaten yang kaya akan kebudayaannya. Seperti dandangan, buka luwur, juga bulusan, serta berbagai macam ragam daerahnya yang menarik untuk diamati dan dipelajari.

PEMBAHASAN
Seperti banyak daerah di Indonesia, Kabupaten kudus juga memiliki ragam kebudayaan yang menjadi ciri khas, dan membedakan Kabupaten kudus dari daerah-daerah lainnya di Indonesia. Akan saya jelaskan beberapa kebudayaan yang berasal dari daerah kudus.
 
1. DANDANGAN
Tradisi Dandangan merupakan sebuah tradisi dari Kabupaten Kudus yang diadakan untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Tradisi ini sudah ada sekitar 450 tahun lalu tepatnya pada zaman Sunan kudus. Dandangan merupakan pasar malam yang diadakan di sekitar menara Kudus, sepanjang jalan Sunan Kudus, dan meluas ke lokasi sekitarnya. Pada tradisi ini diperdagangkan beraneka ragam kebutuhan, mulai dari kebutuhan rumah tangga, pakaian, sepatu, sandal, hiasan keramik, sampai dengan mainan anak-anak, makanan dan juga minuman.

2. BUKA LUWUR
Buka luwur merupakan acara peringatan wafatnya Sunan Kudus atau disebut juga “Khaul” yang dilaksanakan setiap tanggal 10 muharam atau 10 syura. Buka Luwur dilaksanakan setiap tanggal 10 muharam atau 10 syura dikarenakan pada tanggal tersebut diyakini bahwa ilmu Tuhan diturunkan ke bumi, sehingga tanggal tersebut dianggap keramat oleh masyarakat Kudus.
Upacara Buka Luwur diawali dengan pencucian pusaka berupa keris yang diyakini milik Sunan Kudus yang dilakukan jauh sebelum tanggal 10 syuro. Kemudian pada tanggal 1 syuro dilaksanakan pelepasan kain putih penutup makam yang telah digunakan selama satu tahun, dan kain putih inilah yang disebut dengan “Luwur”. Tepat pada tanggal 9 syuro diadakan upacara berjanji sebagai tanda cinta terhadap nabi Muhammad SAW. Pada tanggal 10 syuro setelah shalat subuh dilaksanakanlah upacara penggantian kain putih penutup makam dan terlaksanalah upacara Buka Luwur.

3. BULUSAN
Tradisi bulusan di kota kudus sudah ada sejak sekitar abad 18 masehi pada zaman wali songo. Bulusan sendiri berasal dari bahasa jawa yaitu “Bulus” yang berarti kura-kura. Tradisi bulusan konon menceritakan tentang sekelompok orang yang di sabda oleh seorang wali.
Tradisi bulusan dilaksanakan tepat sepekan setelah hari raya idul fitri, diawali dengan acara arak-arakan makanan yang dimulai dari sawah yang dinamakan mojo bulus, upacara bulusan juga dimeriahkan dengan pertunjukkan wayang kulit 24 jam nonstop. Para warga mempercayai apabila upacara bulusan tidak dilaksanakan maka mereka akan mendapatkan kesialan.


PENUTUP
Setiap daerah di Indonesia memiliki keberagaman budaya yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Masing-masing kebudayaan merupakan ciri khas yang sudah melekat pada daerah tersebut, seperti tari, senjata, ataupun tradisi-tradisi uparanya. Kebudayaan itu juga menjadi hal yang sangat menarik untuk dipelajari.
Seperti halnya kebudayaan yang dari Kabupaten Kudus, contohnya tradisi Dandangan yang dilaksanakan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dan sudah dilaksanakan sekitar 450 tahun lamanya sejak zaman Sunan Kudus. Adapun upacara Buka Luwur yang diselenggarakan setiap tahunnya untuk menghormati leluhur Sunan Kudus. Selain tradisi Dandangan dan upacara Buka Luwur, terdapat pula tradisi Bulusan yang dilaksanakan tepat sepekan setelah hari raya Idul Fitri.
Beberapa kebudayaan tersebut merupakan identitas dan menjadi ciri khas bagi daerah Kabupaten Kudus yang menjadikannya berbeda dengan kebudayaan pada daerah lainnya di Indonesia.


SARAN
Sebagai generasi muda sebaiknya kita juga mau untuk mempelajari beragam kebudayaan dari daerah-daerah di Indonesia agar tidak punah dan juga tidak di klaim atau diakui oleh negara lain. Dengan menanamkan rasa cinta terhadap budaya Indonesia maka kita sudah menjaga ciri khas dari setiap daerah Indonesia. Dengan demikian kebudayaan kita tidak akan punah dan luntur termakan usia atau dicuri bangsa lain





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Upacara Adat Ammateang

Upacara Adat Ammateang Bugis Oleh : Zulkifli (12010047) Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran Pendahuluan Keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia harus dipandang sebagai sebuah kekayaan bukan kemiskinan. Bahwa Indonesia tidak memiliki identitas adat dan   budaya yang tunggal bukan berarti tidak memiliki jati diri, namun dengan keanekaragaman adat dan budaya yang ada membuktikan bahwa masyarakat kita memiliki kualitas produksi adat dan budaya yang luar biasa, jika mengacu pada pengertian bahwa kebudayaan adalah hasil cipta manusia. Dengan demikian adat dan Budaya amupun tradisi akan selalu mengalami dinamis dan mendapatkan akulturasi dari berbagai aspek seperti ajaran islam. Pembahasan di sini menggali sebuah adat suku bugis di pulau bagian timur tepatnya di sulawesi selatan. Adat tersebut di kenal dengan nama Upacara Adat Ammateang yang mengalami akulturasi dengan islam yang sejalan dengan perkembangan zaman. Adat Upacara Adat

Selamatan Tujuh Bulanan (Tingkeban)

Selamatan Tujuh Bulan / Tingkeban Mufijatul Hasanah/ 12010028 Islam Budaya Lokal/ M. Sidqi, M. Hum Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran A. Pendahuluan Proses terjadinya manusia merupakan peristiwa yang sangat menakjubkan, sebagai tanda keagungan Sang Pencipta. Berwujud dari benda yang tak bernilai /sperma secara bertahap berubah hingga akhirnya sempurna dan lengkap dengan anggota badan yang tersusun rapi dan rumit, bahkan dilengkapi dengan akal pikiran, budi pekerti dan perasaan. Ajaran Islam bisa dinyatakan telah kuat jika sudah mentradisi ditengah masyarakat muslim, sehingga tradisi menjadi sangat menentukan dalam keberlangsungan ajaran disaat tradisi itu telah menyatu dengan ajaran, karena tradisi merupakan darah daging dalam tubuh masyarakat, sementara mengubahnya adalah sesuatu yang sangat sulit, maka sangatlah bijaksana ketika tradisi tidak diposisikan berhadapan dengan ajaran, tetapi sebagai pintu masuk suatu ajaran. Dalam makalah ini sekilas dibahas tentang